Siapa Bilang Kaya dari Bisnis Online itu Mustahil? Lihat Dulu Daftar Ebook di Bawah Ini!
Rabu, 25 Juli 2012
Saiful Islam Al-Payage, Mutiara Dakwah dari Papua
Selasa, 24 Juli 2012
Sayyid Quthb
Jumat, 20 Juli 2012
Riwayat Imam Bukhari
Senin, 23 April 2012
Ilmuwan Muslim Legendaris dari Dinasti Buwaihi
Avicenna, begitu orang Barat biasa memanggilnya. Ilmuwan bernama Abu ‘Ali al-Husayn bin ‘Abdullah bin Sa'na itu terlahir pada tahun 980 di Afsyahnah daerah dekat Bukhara, sekarang wilayah Uzbekistan. Ia adalah ilmuwan Muslim yang sangat legendaris. Tak kurang dari 450 judul buku berhasil ditulisnya.
Jumat, 24 Februari 2012
Ribery Buka Bar Bebas Alkohol
Senin, 13 Februari 2012
Muslim Lolowau di Nias Selatan Bertambah
Senin, 28 November 2011
Dari Korban Perang Vietnam menjadi Da'i Terkenal di Amerika
Abdulbahry kecil pun kemudian diboyong keluarga menuju Seattle, Amerika Serikat. Disana ia tumbuh besar dan dewasa. Kecintaan besarnya terhadap ilmu agama, mengantarkan dirinya menjadi mahasiswa di Universitas Islam Madinah. Sejak saat itu Madinah menjadi kota peraduannya dalam mengais ilmu demi ilmu. Sebuah langkah yang terlihat jarang dilakukan oleh pria Vietnam pada umumnya.
“Di Seattle saya besar selama 30 tahun, kemudian belajar di Madinah selama 6 tahun. Dua tahun kemudian saya mulai bolak balik ke Madinah” ujarnya saat ditanya Eramuslim.com di tengah-tengah kunjungannya ke Jakarta, Selasa 18/10.
Kita ketahui bersama, Vietnam adalah sebuah Negara dimana Buddha Mahayana, Taoisme dan Konfusianisme memiliki pengaruh kuat terhadap kehidupan berbudaya dan beragama masyarakat. Bahkan, menurut sensus tahun 1999, 80.8% orang Vietnam tidak beragama. Akan tetapi, sapanyana, meski dikelilingi situasi penuh kekafiran, Syekh Abdulbahry tidak tergoda untuk pindah haluan. Ia istiqomah di jalan dakwah. Mungkin karena hal itu jua yang membuatnya semangat untuk melebarkan sayap dakwah ke seluruh dunia tentang betapa solutifnya ajaran Islam.
Pasca enam tahun mengenyam pendidikan di Madinah, ayah empat orang anak ini kemudian kembali ke Vietnam dan Kamboja. Disana ia menjadi seorang guru dan diamanahi poisisi sebagai Direktur Yayasan Amal Ummul Quro.
Kini Bersama keluarganya, pakar Tafsir dan Hadis ini menjabat sebagai Imam Masjid Jaamiul Muslimin di Seattle, WA. Tidak hanya itu, Syekh Bahri juga memegang posisi Presiden Masyarakat Pengungsi Cham dan Wakil-Presiden Islamic Center Washington State. Syekh Bahry juga termasuk muslim yang banyak mengkritik modernisme masyarakat Amerika. Pesatnya laju teknologi dan kesibukan tiada henti menjadi keladi dari krisis spiritualitas negeri Paman Sam itu. Maka itu Syekh Abdulbahry Yahya mencoba bergerak mengatasi kekacauan ini. Metodenya terlihat sederhana, yaitu bagaimana Islam bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Senin, 21 November 2011
Komandan San Jin-Gu dan 37 Pasukannya
Kapten San dan pasukannya bertugas di wilayah Irbil, Iraq Utara. Ketika bertugas di wilayah tersebut, beliau sering melihat orang-orang Muslim solat berjamaah di Masjid. Kebetulan markas pasukannya berada dekat dengan masjid. Dia terheran-heran sendiri dengan gerakan-gerakan solat tersebut.
Karena penasaran, dia coba menirukan seluruh gerakan solat dan mempraktikkan sendiri di bilik kamarnya. Saat itulah dia merasakan ada ketenangan dan perasaan damai yang hadir dalam hatinya. Kemudian gerakan solat tersebut dijadikan program meditasi untuk pasukan yg dipimpinnya (disamping Yoga). Setelah melakukan gerakan2 solat tersebut, ternyata mereka merasakan perasaan yg sama, mereka juga merasa lebih tenang dan damai.
Sejak itu Kapten San berinisiatif untuk mempelajari Islam lebih dalam lagi, dan akhirnya dia memutuskan untuk memeluk Islam. Ketika niat tersebut disampaikan kepada anggota-anggotanya, beliau berkata : "Aku telah menemukan cahaya kehidupan yg sesungguhnya, aku ingin berada dalam cahaya tersebut, dan cahaya itu adalah Islam".
Tanpa di duga, secara spontan 37 anggotanya mengangkat tangan mereka, sebagai tanda ikut bersama komandan mereka - juga untuk memeluk Islam. Subhanallah . . .
Jumat, 18 November 2011
Dari Lapangan Sepak Bola Menuju Lapangan Penuh Berkah
Beruntung, Cioccocini yang lahir di kawasan timur laut Prancis--sebuah wilayah yang berdekatan dengan Belgia--sejak usia 13 tahun pindah ke South Western Coast yang banyak komunitas imigran muslimnya. Diantara teman-temannya di kalangan imigran muslim, hanya Cioccocini yang asli orang Prancis.
"Pertama kali menerima pelajaran agama, adalah tentang agama Islam. Terima kasih buat teman-teman dan keluargaku, serta semua kawan-kawan muslim dari Maroko, Turki, Aljazair dan Tunisia," ungkap Cioccocini.
Bersama mereka, Cioccocini sering berolahraga bersama. Suatu hari ketika sedang bermain sepakbola, anggota dari kelompok dakwah Fi Sabilillah datang ke lapangan, dan memberikan ceramah agama Islam. Cioccocini dan teman-temannya menghentikan permainan, dan mendengarkan ceramah itu. Itulah awal Cioccocini mengenal Islam.
Mulanya, Cioccocini menghindar ketika kelompok itu datang dan memberikan ceramah agama Islam. Salah seorang anggota Fi Sabilillah lalu memanggil Cioccocini untuk ikut mendengarkan, kemudian mengundangnya datang ke masjid untuk melihat dan mengetahui sendiri apa dan bagaimana agama Islam.
"Saya datang ke masjid dan mulai tertarik. Saya memutuskan untuk datang lagi ke masjid untuk ikut salat, bertanya pada banyak orang tentang Islam dan saya makin jauh terlibat dalam agama ini," ujar Cioccocini, yang sekarang sedang mengambil gelar master di bidang administrasi bisnis di Universitas Victoria, Selandia Baru.
"Bisa dikatakan, saya sangat tertarik dengan agama Islam, karena sebelumnya saya tidak tahu apa-apa tentang agama. Saya terkagum-kagum, misalnya melihat orang berpuasa, tidak makan apapun di siang hari selama satu bulan. Saya bertanya-tanya, bagaimana bisa orang-orang itu melakukannya," imbuhnya.
"Bahkan hanya selama Ramadan, bahkan dalam beragam manifestasi dalam agama Islam setelah Ramadan, seperti Hari Raya Idul Fitri dan sejenisnya, buat saya sangat menakjubkan. Saya lalu memutuskan untuk mendalami agama Islam," sambung Cioccocini yang bercita-cita ingin terjun ke bidang bisnis internasional.
Usia Cioccocini mungkin masih sangat muda ketika akhirnya memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Namun kedua orang tua Cioccocini tidak keberatan puteranya masuk Islam. Teman-teman muslim Cioccocini agak terkejut melihat sikap orang tuanya itu, "Oleh sebab itu mereka menganggap saya sebagai anak sendiri, dan ingin banyak membantu saya. Mereka tidak mau saya kecewa. Mereka menganggap saya sebagai bagian dari keluarga besar. Ini sangat mengesankan," ungkap Cioccocini.
Cioccocini memang beruntung karena tidak harus menghadapi penolakan dari kedua orang tuanya, seperti yang sering dialami para mualaf. Kedua orang tua Cioccocini memberikan kebebasan baginya untuk memilih. Di sisi lain, orang tua Cioccocini ingin putra mereka berada di lingkungan yang aman dan bagi ayah-ibu Cioccocini masjid adalah tempat yang aman, tidak seperti jalanan dimana anak-anak bisa saling memaki, mencuri dan tawuran.
"Mereka lebih senang saya berdiam diri di masjid daripada sering keluyuran di jalanan," kata Cioccocini tentang sikap ayah dan ibunya.
Cioccocini berpendapat bahwa Islam adalah hal terbaik untuknya. Islam mengajarkannya untuk saling menghormati pada setiap orang, membentuk pola pikirnya dan mengajarkan bagaimana ia harus berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Islam juga mendorong umatnya untuk selalu belajar dan menuntut ilmu.
"Sayang sekali, beberapa teman saya tidak tertarik atau tidak mau melibatkan diri dengan Islam. Mereka akhirnya menjadi pecandu narkoba atau pecandu minuman keras ... menjalin hubungan pria dan wanita sebelum menikah ... Beruntung saya menemukan Islam dan Islam banyak menolong saya dalam menjalani kehidupa sehari-hari," tukas Cioccocini.
Ia juga berpendapat, Islam "obat penyembuh" bagi mereka yang membutuhkan. Cioccocini mencontohkan, para tahanan di dalam penjara yang berusaha untuk belajar Islam, mereka akhirnya menjadi orang-orang yang sangat baik. Mereka yang kecanduan narkoba atau minuman beralkohol, ketika mengenal Islam mereka bertobat dan menjadi bersih kembali.
"Islam adalah obat penyembuh yang paling manjur, dan Allah Swt. adalah dokter yang paling hebat yang bisa kita temui untuk merawat kita. Jika kita sungguh-sungguh menemukan-Nya, Dia akan banyak membantu kita," kata Cioccocini.
Sejak memutuskan menjadi bersyahadat, Cioccocini mengaku tidak pernah menghadapi persoalan terkait jadi dirinya sebagai orang Prancis sekaligus sebagai seorang muslim. Namun ia tak mengelak, bahwa sekarang ini di Eropa, orang mulai ketakutan melihat perkembangan Islam yang begitu pesat. Mereka melihat Islam sebagai agama yang terlalu cepat masuk ke Eropa dan khawatir melihat banyak orang Eropa yang masuk Islam.
Masyarakat Prancis, kata Cioccocini, pada umumnya percaya saja dengan apa yang diberitakan media massa tentang Islam, bahwa Muslim itu teroris dan senang berpoligami, bahwa perempuan itu direndahkan dan citra negatif lainnya yang ciptakan media tentang Islamd dan Muslim.
"Mereka percaya saja dan tidak berusaha mencari kebenarannya. Mereka tidak berusaha membuka buku dan percaya saja dengan apa yang mereka dengar ..."
"Tapi untungnya, orang-orang di sekeliling saya mulai memahami bahwa Islam tidak seburuk yang mereka sangka, karena mereka melihat perilaku dan sikap saya pada mereka, dan melihat bahwa saya bisa menjadi seorang mahasiswa yang baik, dan Islam tidak sejahat seperti yang mereka yakini selama ini," papar Cioccocini.
"Begitu pula dengan kedua orang tua saya. Saya sempatkan berdiskusi dengan mereka, dan mereka mengatakan bahwa akhirnya mereka tahu kalau Islam adalah hal terbaik untuk saya, bahwa saya sangat beruntung telah menemukan Islam, padahal kedua orang tua saya bukan seorang muslim," sambungnya.
Cioccocini menyatakan sangat bahagia menemukan Islam dan berharap ia bisa istiqomah sebagai seorang muslim. Islam akan menjadi bagian pendidikan untuk anak-anak, istri dan seluruh aspek kehidupannya kelak.
Senin, 14 November 2011
Sutradara Muslim AS Datang ke Indonesia
dengan merangkul kaum muda ibukota, menggelar pemutaran film dan diskusi bersama tentang kekuatan karya-karya film, Islam di Amerika dan multikulturalisme.
Kaum muda menonton dua film sekaligus, yang berjudul “Wayward Son” dan “Deen Tight”, keduanya karya Mustafa Davis, yang selain seorang sutradara, juga penulis serta produser Muslim Amerika yang cukup terkenal.
Kedua film karya Mustafa itu bercerita tentang perjuangan kaum Muslim di Amerika dalam mewujudkan keseimbangan antara budaya dan agama.
Usai menonton bersama dan berdiskusi, Mustafa Davis menyatakan rasa simpatinya terhadap kaum muda Indonesia yang cukup antusias berbincang, membahas soal film dan keberagaman budaya, terutama terkait muslim di AS. Mustafa mengatakan, secara khusus melalui karya-karya filmnya, ia ingin berbagi dengan kaum muda
Budi Nahaba
Mustafa Davis, sutradara, penulis, dan produser film, yang juga seorang muslim Amerika, tengah berada di
Kaum muda hadir menyaksikan dan berdiskusi di studio Kineforum Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat yang berkapasitas sekitar 100 penonton itu hari Sabtu (24/9). Penonton punya komentar beragam setelah menyaksikan karya cineas muslim Amerika, Mustafa Davis.
Kiswinar (23 tahun), seorang pencinta karya-karya film dokumenter, terutama film-film yang mengisahkan masalah-masalah sosial, pemuda dan kebudayaan pop berkomentar, "Filmnya Mustafa yang pasti menginspirasi orang-orang bahkan melewati keyakinannya ya, jadi menjadi seorang muslim pun kita tidak boleh kehilangan jati diri budaya kita."
Para penonton datang dalam berbagai rombongan, termasuk kelompok mahasiswa dan pelajar. Beberapa di antaranya, perempuan karir. Salah satunya, Putri (27 tahun) yang turut menonton pemutaran film karya Mustafa Davis.
“Sebenarnya aku nggak suka film dokumenter awalnya, tapi tadi, tadi aku bisa duduk, diam, lama dan sampai selesai, kerena memang bagus sih, lihatlah (film) itu hip hop, skateboard dan Islam. Gambarin Islam di AS,” ungkap Putri.
Selama di Indonesia, Mustafa Davis akan menggelar nonton bareng dan diskusi di kota-kota penting di Sumatera dan Jawa, antara lain, Yogyakarta, Magelang, dan Palembang.
Sebelumnya, pihak Kedutaan Besar AS di Jakarta dalam rilisnya menyebutkan, bahwa Mustafa Davis berkunjung ke Indonesia melalui program “Cultural Envoy” (Duta Budaya) Departemen Luar Negeri AS yang mempertemukan para seniman AS dengan para seniman dan kalangan dunia pendidikan dari berbagai negara di dunia, untuk saling bertukar pengalaman dan keahlian.
Mustafa Davis lahir dan dibesarkan di California Utara, dan menempuh pendidikan di New York Film Academy di Universal Studios Hollywood. Sebagai seorang pemuda, Mustafa sering bepergian ke luar negeri untuk mencari kebenaran dalam seni dan membuat berbagai cerita independen.
Rabu, 09 November 2011
Jermaine Jackson
Kisahnya bermula pada tahun 1989. Ia bersama saudara perempuannya sedang menggelar konser ke sejumlah negara Timur Tengah, salah satunya
Selama berada di
Ia melanjutkan, “Saat interaksi itu, mereka menanyakan tentang agama saya. Saya jawab, 'Saya seorang Nasrani.' Lalu, saya bertanya apa agama mereka. Suasana tiba-tiba senyap. Kemudian mereka dengan kompak menjawab 'Islam'”
Interaksi singkat dengan anak-anak di Bahrain rupanya membekas di hati Jermaine, dan membawanya dalam sebuah diskusi panjang tentang Islam dengan sejumlah cendikiawan Muslim. Diskusi-diskusi itu menimbulkan getaran-getaran kuat dalam pikirannya. Jermaine berusaha meyakinkan dirinya bahwa tak terjadi apa-apa. Namun ia gagal dan tak bisa menyembunyikan lagi perasaannya bahwa Islam telah memanggilnya. Dalam hati ia merasa bahwa dirinya sudah masuk Islam.
“Saya mengungkapkan hal ini pertama kali pada teman keluarga saya, Qunber Ali. Pada saat yang sama, ia ingin mengajak saya ke
Jermain menyatakan, setelah masuk Islam, ia merasa seolah-olah telah terlahir kembali.
“Hanya Islam yang memberikan jawaban yang memuaskan. Untuk pertama kalinya, saya jadi percaya dengan agama itu sendiri. Saya berdoa, semoga seluruh keluarga saya bisa menghargai semua fakta ini,” harap Jermaine.
Keluarga Jackson adalah penganut Kristen sekte Saksi Yehova. Berdasarkan keyakinan agama ini, hanya 144.000 laki-laki yang akhirnya memenuhinya syarat untuk masuk surga.
“Bagaimana mungkin, itu sebuah kredo yang buat saya membingungkan. Dan saya makin terkejut ketika menyadari bahwa Alkitab ternyata disusun oleh banyak orang, terutama Alkitab yang disusun oleh Raja James ... Saya bertanya-tanya, seseorang yang menyusun Alkitab dan mengklaim sumbernya dari Tuhan, tapi orang itu sendiri tidak menjalankan apa yang ada dalam Alkitab,” imbuh Jermaine.
Ketika kembali AS, Jermaine membawa banyak buku tentang Islam dari Arab Saudi. Menurutnya, Michael Jackson -- sang adik -- tertarik membaca buku-buku itu dan meminta izin untuk membaca dan mempelajarinya.
Jermaine juga melihat bagaimana media massa di AS menyebarkan propaganda buruk tentang Islam dan Muslim. Sebagai muslim, Jermaine sempat terkena gosip tak sedap yang mengganggu pikirannya. Namun ia bertekad akan melakukan yang terbaik untuk meluruskan citra negatif yang digambarkan media
“Sebelum ini, cara pandang Michael pada Islam dan Muslim sangat terpengaruh dengan propaganda media massa. Ia tidak memusuhi Islam, tapi juga tidak begitu menunjukkan rasa suka pada Muslim. Tapi setelah membaca buku-buku itu, Michael lebih banyak diam dan tidak mengatakan hal-hal yang buruk tentang Muslim,” papar Jermaine.
Ibu Jermaine yang tahu putranya sudah menjadi Muslim pun bertanya, apakah Jermaine mengambil keputusan itu dengan mendadak, atau setelah melalui pemikiran yang dalam dan panjang. Jermaine dengan mantap menjawab, “Saya memutuskannya setelah memikirkannya dalam-dalam.” Sementara adik perempuan Jermaine, Janet Jackson, cuma bisa tercengang mengetahui sang kakak menjadi seorang muslim.
Bagi Jermaine, masyarakat Muslim menjadi tempat yang paling aman di seluruh planet bumi. Ia mencontohkan kehidupan kaum perempuan. Kaum perempuan di Amerika mengenakan busana yang menggoda kaum lelaki melakukan pelecehan. Hal semacam itu tidak terpikirkan di tengah masyarakat Muslim.
Jermaine kini hidup bahagia bersama istri dan dua anaknya. Ia menerapkan kehidupan islami di tengah keluarganya, dan membimbing istrinya untuk terus mempelajari Islam.
Senin, 10 Oktober 2011
Monica, Pramugari Mualaf Asal Jepang
Keluarga Monica adalah keluarga Jepang yang menganut agama Budha. Tapi sejak kecil ia tidak diberi bekal pendidikan agama yang dianut keluarganya, dan kedua orangtuanya pun tidak terlalu mempermasalahkan soal agama pada anak-anaknya.
"Kendati demikian, sejak kecil saya sering bertanya-tanya tentang alam semesta, keberadaannya dan tentang kehidupan. Pertanyaan-pertanyaan itu masih sering menghantui pikiran saya hingga saya berusia 20 tahun, saat saya menyelesaikan kuliah dan mulai bekerja sebagai pramugari di sebuah maskapai penerbangan Jepang," tutur Monica.
"Saya berharap menemukan kedamaian dan sesuatu yang bermakna lewat pekerjaan saya, tapi saya tetap merasa hidup saya sangat kosong. Seperti ada sesuatu yang hilang, dan saya hampir putus asa untuk menemukan apa yang hilang itu," sambung Monica.
Tapi Allah Maha Pengatur segalanya. Tahun 1981 Monica ditakdirkan untuk bekerja sebagai penerjemah untuk delegasi negara Jepang di sebuah badan pariwisata di Mesir. Ia bekerja sebagai penerjemah selama satu tahun. Lewat perkenalan dengan teman-teman barunya selama di Mesir, Monica mulai mengenal dan mempelajari agama Islam. Setelah masa kerjanya selesai dan kembali ke tanah airnya, Jepang, Monica bertekad untuk terus mempelajari Islam dengan harapan mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sejak lama menggantung di pikirannya.
Setelah mempelajari Islam, ia menyadari bahwa informasi yang ia dapatkan tentang Islam selama ini dari sekolah dan televisi, sangat terbatas dan sudah terdistorsi. "Sama dengan kebanyakan orang Jepang lainnya yang membaca dan mendengar berita tentang dunia Islam, tidak lebih hanya berita-berita tentang kekerasan," ujar Monica.
Begitu tiba kembali di Jepang, Monica berkunjung ke Islamic Center di Tokyo dan meminta Al-Quran yang terjemahannya dalam bahasa Jepang. Selama tiga tahun, Monica berkunjung ke Islamic Center secara rutin, dan belajar agama Islam dengan para ulama di Islamic Center itu.
Monica menyatakan sangat terkesan dengan bagaimana Islam menempatkan kaum perempuan pada posisi yang mulia. "Bagaimana Islam melindungi dan menghormati kaum perempuan, baik perasaannya, pemikiran serta persoalan susila, lebih dari apa yang saya bayangkan selama ini," tukas Monica.
Untuk menghayati keberadaan dan kebesaran Allah Swt. Monica kerap melakukan meditasi, mentadaburi ciptaan-ciptaan Allah mulai dari pohon, bunga-bunga, hewan, dan bagaimana Allah Swt. dengan sempurna menciptakan disain kehidupan yang seimbang di bumi ini.
"Dan saya melihat Allah dalam ciptaan-ciptaanya, hati dan kekaguman saya menuntun saya pada Islam. Saya merasakan cahaya Allah menerangi hati saya. Kebahagiaan saya membuncah, seiring dengan tumbuhnya rasa keimanan ini. Saya merasa Allah selalu bersama saya di setiap waktu," tukas Monica.
Lagi-lagi Allah membuka jalan bagi Monica untuk lebih mengenal Islam. Ia kembali bekerja sebagai pramugari maskapai penerbangan yang melayani rute penerbangan dari dan ke Indonesia selama satu tahun. "Saya terkesan dengan Muslim Indonesia yang taat dan selalu berusaha menerapkan apa yang ada dalam Al-Quran dalam kehidupan sehari-hari mereka. Teman-teman Indonesia juga banyak membantu saya memahami Islam lebih baik, sehingga kecintaan saya pada Islam makin besar," ungkap Monica.
Ia mengaku menghadapi kesulitan dengan keluarganya saat mengetahui ketertarikan Monica pada Islam. Namun Monica bertekad untuk menjadi seorang muslimah apapun tantangan yang akan dihadapinya. Ia mulai menunaikan salat lima waktu dan belajar menghapal Al-Quran agar bisa menunaikan salat dengan baik dan benar.
Tahun 1991, Monica berkunjung ke Mesir dan mengucapkan dua kalimat syahadat di Universitas Al-Azhar, Kairo. Di Mesir, ia mendapatkan pekerjaan, lalu menikah dengan seorang lelaki Mesir. Sekarang, Monica menetap di Mesir dengan suami dan seorang anak perempuannya bernama Maryam.
"Alhamdulillah, saya bahagia menjalani kehidupan saya yang sekarang, dengan agama baru dan keluarga baru yang muslim. Saya tetap menghapal Al-Quran dan kalau ada waktu senggang, saya dan suami belajar dan membaca Quran bersama-sama ..."
"Saya berharap bisa mengajak keluarga saya yang lain untuk masuk Islam, Insya Allah. Terus terang, pada umumnya, masyarakat Jepang kehilangan satu komponen penting untuk mencapai kehidupan yang bahagia, meski secara peradaban mereka adalah masyarakat yang hidup dengan teknologi serba maju. Saya yakin, banyak diantara mereka yang akan masuk Islam, jika mereka mendapatkan informasi dan pemahaman yang benar tentang Islam," tandas Monica.
Rabu, 28 September 2011
Masuk Islam Karena Kagum dengan Sosok Rasulullah
Keluarga Janna selalu pergi liburan bersama-sama. Ketika berusia antara 12-13 tahun, Janna dan keluarga besarnya berlibur ke Uni Emirat Arab. Inilah liburan yang paling berkesan bagi Janna sepanjang hidup. Siapa kira liburan itu yang kemudian menuntunnya pada Islam, agama yang dipeluknya sekarang.
Janna kembali mengingat kembali liburannya ketika itu. Sepekan pertama, ia dan keluarganya berkeliling Uni Emirat Arab. Suatu hari, di hari Jumat, mereka sedang dalam perjalanan menuju Pasar Al-Souq. Tiba-tiba terdengar suara azan dan Janna melihat orang-orang di sekitarnya langsung menghentikan aktivitasnya. Yang sedang mengendarai mobil pun berhenti, mengambil sajadah, menggelarnya, lalu menunaikan salat meski di pinggir jalan.
"Suara azan telah mengubah sesuatu dalam diri saya, subhanallah. Saya tidak tahu apa itu, tapi setelah itu saya merasa ada perubahan dan perubahan itu mengendap dalam diri saya. Saya ingin tahu arti kata-kata dalam azan, apa maknanya," tutur Janna mengingat kembali pengalamannya ketika pertama kali mendengar azan.
Janna adalah tipikal orang yang sangat takut dengan hal-hal yang berhubungan dengan kematian. Ia selalu menghindari perbicangan tentang kematian dan tidak pernah menghadiri acara pemakaman, termasuk pemakaman pamannya.
Ketika pamannya mengembuskan nafas terakhirnya tepat di hadapannya, dia menjadi shock berat. Dia merasa bahwa kehidupan ini tidak seperti yang ada dalam pikirannya. Sebanyak apapun dia mencurahkan tenaga dan pikiran untuk banyak hal, akan lenyap seketika dalam hitungan detik.
Dia juga merasa bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Namun, setelah belajar Islam, dia baru mengetahui kalau kematian hanya pemutus kehidupan di dunia untuk melanjutkan kehidupan yang lebih kekal di akhirat kelak.
Janna merasa benar-benar yakin dengan Islam ketika membaca biografi Nabi Muhammad Saw, yang mengingatkan nya pada apa yang pernah ia ketahui dan pernah ia baca tentang Yesus (Nabi Isa).
Setelah membaca buku biografi itu, Janna yakin bahwa saya harus menghapus semua yang saya tahu tentang Islam yang selama ini ternyata salah. Janna lalu memulai kembali pencariannya. Tidak butuh waktu lama bagi Janna untuk mengetahui bahwa Islam-lah kebenaran itu dan tidak ada satu agama pun di dunia ini yang bisa menandinginya.
"Dan saya terus membaca dan membaca. Figur ini (Nabi Muhammad Saw.) adalah orang yang mulia dengan karakter dan kepribadian yang sangat mengagumkan, dan saya kira, saya tidak pernah menemukan orang seperti ini sebelumnya," papar Janna.
Meski sudah merasa yakin dengan Islam, Janna masih takut untuk bersyahadat karena ia tahu orang tua dan keluarganya tidak akan pernah menerima Islam.
Ia lalu bertemu dengan seorang muslimah asal Mesir, bernama Noha di Jerman. "Noha banyak membantu saya, karena saya berjumpa dengannya tepat ketika saya mulai berdoa agar saya segera menemukan kebenaran dan memiliki keberanian atas apa yang sedang saya lakukan," ungkap Janna.
Janna dan Noha sering bertemu dan berdiskusi tentang Islam. Noha menjelaskan semua hal tentang Islam dan menjawab semua pertanyaan Janna, karena Janna yakin bahwa agamanya selama ini salah dan ia tidak mau hidup dalam kesalahan itu.
Sekira satu setengah bulan Janna memikirkan tentang kebenaran yang diketahuinya. Ia pun memutuskan masuk Islam. Janna mengucapkan dua kalimat syahadat di asrama mahasiswi di Jerman. Awalnya hanya ada Noha dan Janna di ruangan, tapi akhirnya banyak mahasiswa yang yang tahu ada seseorang yang akan masuk Islam, sehingga ruangan akhirnya dipenuhi 20 orang yang menjadi saksi keislaman Janna.
