Penulis : Ahmad Mansur Suryanegara
Penerbit : Salamadani
Tebal : 584 Halaman
Memelusuri jejak sejarah, baik sejarah bangsa Indonesia dan dunia, jarang sekali terjadi atau ditemukan sesuatu yang mengejutkan. Semua seakan sudah ditulis begitu sempurna, lengkap, dan objektif sehingga tidak ada ruang untuk sekadar interupsi. Apalagi jarang terdapat buku-buku atau bahan pembanding untuk menguji sejarah yang telah dicatatkan dan dituturkan bertahun-tahun lamanya.
Alhasil, seperti kata Bung Karno dalam surat dari Endeh yang dimuat dalam bukunya Di Bawah Bendera Revolusi Djilid I, selama ini kita “hanya mampu membaca abunya sejarah, tapi tidak dapat menangkap apinya sejarah.” Kita mungkin tahu dan hapal hari kemerdekaan, kebangkitan nasional, nama-nama para pahlawan. Namun, jarang mampu memahami makna dan fakta yang menggelora dalam sebuah peristiwa sejarah serta tokoh-tokoh di dalamnya.
Jadi tak usah heran dalam peringatan peristiwa sejarah penting lebih terasa hanya menjadi ajang seremonial dan agenda tahunan. Para pahlawan yang telah berjuang mengorbankan jiwa dan raga, hanya dihafal nama-namanya. Sejarah lebih sering dianggap sebagai kisah masa lalu, daripada sebuah perjalanan yang berkesinambungan untuk meraih kejayaan di masa depan.
Karena itu, perlu pemahaman untuk bisa lebih memaknai secara mendalam sebuah semangat dan cita-cita luhur di balik sejarah sebuah bangsa. Untuk itu, dimungkinkan pula adanya koreksi, untuk tetap menjaga makna cita-cita luhur di dalamnya sehingga sejarah bisa dijadikan perjalanan yang berkesinambungan sebuah bangsa untuk meraih kejayaan di masa depan.
Itu pula semangat yang ingin disampaikan dalam Buku Api Sejarah karya Ahmad Mansur Suryanegara yang diterbitkan Salamadani. Buku setebal 584 halaman ini bukan buku sejarah biasa karena menampilkan fakta-fakta menyengat yang jarang terungkap dalam buku sejarah kebanyakan.
Bab Pertama, Pengaruh Kebangkitan Islam di Indonesia. Pada bab ini, kita diajak untuk menelusuri jejak awal lahirnya Islam yang dibawa oleh Baginda Rasulullah saw. Ahmad Mansur menuliskan sejarah Islam pada jaman Rasulullah, Khulafaur Rasyidin, Khilafah Umayah, Khilafah Abbasiyah, Fatimiyah, Turki dan Dinasti Genghis dan pengaruhnya terhadap perkembangan Islam di Indonesia.
Bab Kedua, Masuk dan Perkembangan Agama Islam di Nusantara Indonesia. Kalau kita hanya membaca bab pertama, pasti kita akan bertanya-tanya apa coba hubungan dari bab pertama dengan sejarah Indonesia?? Nah maka dari itu, kalau sudah selesai bab pertama jangan mutung ya, lanjutkan bab kedua. dalam bab ini, kita diajak berkelana saat Islam merambah ke Indonesia. Bagi yang semasa SMP dan SMA nya memperhatikan pelajaran sejarah, pasti sudah tahu kalau Islam masuk abad ke 14 yang ditandai dengan adanya kerajaan Samudra Pasai. Sejarah Islam yang aneh, masak dalam waktu yang relatif singkat tiba-tiba ajah muncul kerajaan Islam? Padahal klo kita berbicara kerajaan, pasti yang terbayang bahwa dalam satu negara itu agama Islam berkuasa banget. Emang dengan semudah itu ya? Nah, kalau pak Ahmad Mansur menunjukan bukti-bukti kalau Islam sudah masuk dari abad ke 7. Sebab, pada abad ke-7 berdasarkan Berita China Dinasti Tang sudah ada masyarakat di pesisir barat Sumatera yang beragama Islam dan ditemukannya nisan ulama Syaikh Mukaiddin di Baros, Tapanuli. Dan, keruntuhan kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha bukan akibat dominasi kerajaan Islam, misalnya Kerajaan Majapahit hancur setelah diserang Raja Girindrawardhana dari Kediri bukan oleh Kerajaan Demak.
Bab Ketiga, Peran Kekuasaan Politik Islam Melawan Imperialisme Barat. Nah ini baru fakta, kalau pemberontakan-pemberontakan yang terjadi untuk melawan Penjajah itu ternyata dipimpin oleh Ulama dan Santri. Disini, Anda akan benar-benar terbelalak jika sudah membacanya, ternyata ada korelasinya antara perang-perang yang terjadi di dunia dengan perang-perang yang terjadi di Indonesia, contohnya Keruntuhan Turki, lalu Revolusi Buruh di Perancis yang gara-gara ajaran Karl Max (Komunisme). Dan lain-lain dan sebagainya, bab ini haram hukumnya bila dilewatkan.
Bab Keempat, Peran Ulama dalam Gerakan Kebangkitan Kesadaran Nasional (1900-1942). Bab terakhir ini dimulai dengan munculnya organisasi pertama yang memelopori perjuangan kemerdekaan, yaitu Sjarikat Islam yang dipimpin Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto. Karena Belanda terlalu khawatir, makanya dibentuklah organisasi tandinganya Budi Utomo, Budi Utomo ini organisasi yang eksklusif khusus buat Priyayi saja. Makanya Budi Utomo tidak lebih merakyat dibandingkan Sjarikat Islam.
Lalu, mengapa Hari Lahir Boedi Oetomo ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Padahal menurut MR AK Pringgodigdo dalam buku Sedjarah Pergerakan Rakjat Indonesia, Boedi Oetomo dalam Kongres di Surakarta pada 1928 menolak cita-cita persatuan.
Banyak sekali fakta-fakta yang diungkapkan oleh Ahmad Mansyur yang ternyata jauh sekali dibandingkan pelajaran Sejarah yang kita dapat di SMP dan SMA. Hal ini karena terjadinya Deislamisasi yang memang sengaja dilakukan oleh oknum-oknum Belanda. Yang tujuanya tentu saja untuk membutakan kita dari sejarah kita. Dan ada pula upaya-upaya Belanda untuk memecah belah perjuangan kakek dan nenek kita dulu. Sejarah itu tidak seutuhnya bisa kita ketahui dengan pasti, banyak orang yang menuliskan sejarah dengan versi yang berbeda-beda..selama tidak ada saksi yang nyata seperti rekaman videonya yang bisa kita liat dengan mata dan kita dengar dengan telinga boleh-boleh saja kita tidak mempercayai sejarah itu. Namun, Buku ini layak diapresiasi sekaligus diuji fakta-fakta yang disajikan. Tentunya bukan mencari siapa yang benar dan salah. Lebih penting adalah meletakan fakta-fakta sejarah secara proporsional agar api semangat dan cita-cita luhur para pahlawan terus dilanjutkan untuk kejayaan Indonesia.